Latest News

Friday, September 24, 2021

Salib dan Penderitaan Yang Menyelamatkan

 [06.53, 24/9/2021] +62 821-1397-0579: 🆁🅰🅶🅸 Jumat, 24 September 2021.
Hari Biasa Pekan XXV
• Hag. 2:1b-10; 
• Mzm. 43:1-4; 
• Luk. 9:18-22

Salib dan Penderitaan Yang Menyelamatkan

Dikisahkan dalam Injil hari ini, atas nama para murid, Petrus menyatakan bahwa Yesus, Guru yang mereka ikuti itu, adalah Mesias yang datang dari Allah. Tetapi Yesus langsung menjelaskan, bahwa Ia bukan Mesias penguasa politik yang akan mengusir penjajah seperti yang mereka pikirkan. Yesus mengatakan: "Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga." (Luk 9:22).
    Ketika merenungkan sengsara dan penyaliban Tuhan Yesus, terutama pada hari Jumat Agung, umat Kristiani merasa sangat bersyukur karena Kristus telah wafat untuk kita. Tetapi banyak umat juga sedih dan merasa bersalah karena dosa kita telah menyebabkan Yesus begitu menderita.
    Sebagian umat bertanya, mengapa untuk menebus dosa kita Kristus harus wafat di salib dengan penderitaan yang tak terperikan itu? Mengapa Allah yang penuh belas kasih tidak langsung mengampuni dosa kita saja, dan Yesus tidak perlu menderita dan wafat di salib? Siksaan luar biasa itu kiranya lebih cocok untuk meredakan Allah yang marah dan balas dendam, bukan Allah yang pengasih dan pengampun. 
    Untuk memahami mengapa Kristus harus sengsara dan wafat, kita mesti ingat bahwa selain penuh kasih, Allah itu juga mahaadil. Karena Ia adil, Allah tidak bisa menutupi dosa-dosa kita begitu saja. Seorang hakim di pengadilan tidak bisa membebaskan penjahat tanpa memberinya hukuman sama sekali, hanya karena si penjahat sudah menyesal. Hakim seperti itu akan dicerca dan tidak bisa diterima. 
    Demikian juga Allah, Ia harus bertindak adil. Karena Allah adil, kita harus dihukum. Kita layak dihukum karena dosa-dosa kita. Tidak bisa kita langsung masuk surga begitu saja. Jika kita belum menyadari betapa serius dosa-dosa kita dan betapa adil bila kita dihukum, kita tidak akan merasakan betapa besar kasih Allah.
    Kita seharusnya dihukum! Tetapi, karena kasih-Nya pada kita, Allah merelakan Putra-Nya untuk menderita dan wafat, menggantikan kita untuk menanggung hukuman itu. Karena kasih dan ketaatan-Nya, Kristus rela menderita, membayar hutang dosa-dosa kita, sehingga Allah yang penuh kasih itu dengan adil dapat menyelamatkan kita dari hukuman.
    Allah Bapa menghendaki agar kita tinggal bersama Dia di surga. Maka Ia mengutus Putra Tunggal-Nya untuk menderita dan wafat demi pembebasan kita. Namun, itu tidak berarti bahwa Yesus sengaja mencari penderitaan dan salib. Ia disingkirkan sebagai akibat dari karya kasih dan ajaran-Nya. Karena Yesus menyembuhkan banyak orang sakit, dan ajaran-Nya memukau banyak orang, maka banyak orang mengikuti Dia. Bagi para pemuka orang Yahudi, hal itu dianggap sebagai ancaman, sehingga meski tak bersalah, Yesus harus dihukum mati.
    Karya penyelamatan lewat Kristus itu membuktikan betapa berharganya kita di mata Bapa, dan betapa besar kasih-Nya pada setiap orang dari kita. Allah memberikan keselamatan itu murni sebagai hadiah. Kita bebas untuk menerima atau menolaknya. Jika kita percaya pada Kristus dan setia menjadi murid-Nya, maka karya keselamatan itu terjadi pada kita: Allah memberi kita hidup abadi dan membebaskan kita dari kematian kekal. Inilah Kabar Gembira dari Tuhan kita Yesus Kristus. 
    Para murid Kristus perlu menyadari bahwa Sang Mesias itu menjalani sengsara dan wafat bukan hanya untuk memperbaiki relasi kita dengan Allah, tetapi agar kita pun melanjutkan karya keselamatan itu dengan menempuh jalan yang sama. "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku. (ay. 23). Kita mesti belajar melihat bahwa perjuangan, pengorbanan, sakit dan penderitaan, kegagalan dan kekecewaan dalam hidup kita, semua itu harus kita jalani untuk menyelamatkan dan menyembuhkan saudara kita yang menderita.

Karya keselamatan Allah dalam Kristus tampak lebih agung jika kita melihatnya dalam sejarah keselamatan. Dalam Bacaan pertama, Nabi Hagai menyampaikan ajakan Allah agar umat Israel yang sudah terbebas dari pembuangan itu tidak melupakan segi rohani dalam kehidupannya. Untuk itu hendaknya mereka membangun kembali Rumah Allah. Allah berjanji, Ia akan mengguncang dunia (Persia akan jatuh ke tangan Aleksander Agung), dan kekayaan dunia akan mengalir ke Israel. “Maka Aku akan memenuhi Rumah ini dengan kemegahan,” (Hag 2:7).
    Janji Allah itu terpenuhi dengan kedatangan Sang Mesias. Pada waktu Ia datang, Bait Allah dipenuhi dengan kemegahan besar, bukan hanya dengan hiasan indah, tetapi karena Putra Allah sendiri hadir di dalamnya. Yesus beberapa kali mengajar dalam Bait Allah di Yerusalem.
    Begitu pula sekarang, gedung-gedung gereja menjadi megah bukan saja karena keindahan bangunannya (gubuk beratap daun pun jadi), tetapi karena Tubuh Mistik Kristus (umat Kristiani) hadir di dalamnya, yaitu saat mereka merayakan Ekaristi: saat mereka merayakan karya keselamatan Tuhan untuk diresapkan dalam hati dan diteruskan kepada semua orang.

Bapa yang penuh kasih, Putramu telah rela menderita demi keselamatanku serta keselamatan umat manusia. Berilah kekuatan agar aku pun sanggup berkorban dan menderita untuk mewujudkan keselamatan dan kebahagiaan bagi semua orang. Amin.
 
Selamat pagi. Selamat beraktivitas dengan mengikuti Prokes dan aturan lain. AMDG. Berkat TUHAN.
RS/PK/hr.
[07.56, 24/9/2021] CalegGolKar Rasnius Pasaribu: Selamat pagi rekan2,

Kalau ada waktu senggang, berkenan melihat2 isi website KVKI Pesparani Katolik. Berkenan juga share kepada rekan2 Katolik lainnya untuk menyaksikan.

Salam

No comments:

Post a Comment